Thanks to
Enggak percaya adalah kalimat pertama yang bisa aku ucapin. Bayangkan, aku ngirim naskah jam 1 siang, dan ditanggapin jam 8 malam. Cuma 7 jam. Iya, Cuma 7 jam setelah aku ngirim, naskah aku langsung dipertimbangkan, dirapatkan, dimusyawarahkan. Dan, orang-orang khilaf yang ngadain rapat itu setuju untuk menerbitkan naskah ku. Emezinggg
Perjalanan naskah yang mulus banget ini ternyata Cuma diawal saja. Akibat insiden belum punya KTP, karena waktu itu umur aku baru 17 tahun lebih dkit, membuat pengerjaan naskah ini jadi tertunda agak lama. Dan, itu enggak enak! Salah gue juga yang nggak ngurus KTP dulu baru ngirim naskah. Tapi, jelas enggak salah kalau gue dengan semulus-mulusnya mau mengucapkan terima kasih kepada semuanya.
Terima kasih yang tiada terkira kepada Allah SWT yang sudah ngasih aku tangan, tenaga, dan sedikit ‘pikiran’ hingga akhirnya bisa berbuat sesuatu.
Buat semua keluarga aku yang di rumah, terutama kedua orangtua. Tanpa dorongan, uang seminar, dan kendaraan yang kalian ‘pinjamkan’ buat aku, mungkin buku ini enggak akan pernah ada.
Raditya Dika, Alit Sutanto, Merry Riana. Sosok-sosok yang selalu menginspirasi aku untuk memiliki sebuah karya yang bisa aku banggain. Dan, itu aku lakukan sekarang. Setelah buku ini berada di tangan kalian.
Keluarga besar XI IPA ANGKATAN TAHUN 2013 SMAN1 TRENGGALEK. Yang memang sudah banyak bantu aku, dan mendukung terciptanya buku ini. Aku nggak bakal lupain kalian. Kalian juga enggak bakal lupain aku, kan? Iya, kan? Heyy…jawab dong *__*.
Editor tergaul aku, Mbak Fhit. Orang yang pertama kali baca naskah aku, dan bilang ‘lucu’. Terima kasih buat semua saran dan masukannya. Tulisan aku emang kadang-kadang agak bodoh, tapi dia tetap setia saja bacanya. Aku salut juga……. Prihatin.
Orang-orang special dibalik buku ini. Pacar, gebetan, mantan pacar, sampai mantan gebetan. Makasih buat semua support-nya. Kalau saja salah satu dari kalian enggak nyuruh aku ngirim naskah ini ke penerbit, mungkin sampai sekarang aku enggak bakal berani dan membiarkan si anjing sakit jadi file kudet di laptop.
Elkarin Runi Renisa dan Yulian Marganita. Dua orang senior yang selalu mau ditanya-tanyain, walaupun aku tahu mereka pasti suka kesel juga. Heheheh. Sekali lagi makasih buat bantuan dan masukan dari kalian yang memang berguna banget buat aku.
Penerbit Gradien beserta jajrannya yang sudah khilaf mau menerima buku ini dengan lapang dada dan apa adanya.
Bidan Lely (sekarang sudah jadi Hajah) terima kasih sudah membantu proses kelahiran aku dulu. Tanpa bantuannya mungkin aku cuma jadi anak ingusan sekarang. You are my hero.
Untuk pembaca setia blog aku, sindyasepti.blogspot.com. Tanpa komentar dan segala masukan yang mengkritik atau membangun, mungkin aku bukan apa-apa.
Mukadimah
Segala puji hanya milik Allah, yang tidak pernah menyia-nyiakan siapa pun yng mengharapkan keridhaan-Nya, dan tidak pernah menampik siapa pun yang memanjatkan doa kepda-Nya. Segala puji hanya bagi-Nya, yang dengan segala taufik dan pertolongan-Nya semata, apa pun wujud kepentingan, pasti dapat dilaksanakan dengan sempurna.
Semenjak awal, kita selalu bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi secara benar melainkan Allah, yang Maha Tunggal dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Kita pun bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Allah berfirman,
‘Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah kalian mati melainkan sebagai seorang muslim (yang berserah diri kepada Allah).” (Ali Imran : 102)
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa, dan dari jiwa itulah, Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya pula Allah memperkembangbiakkan gender laki-laki dan wanita dalam jumlah yang banyak. Dan, bertakwalah kepada Allah, yang hanya dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian bisa saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” (An-Nisa : 1)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar; Niscaya, Allah memperbaiki amal perbuatan kalian, lalu mengampuni dosa-dosa kalian. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia mendapat kemenangan yang besar.” (Al-Ahzab : 70-71)
Amma Ba’du:
Bermula dari pertanyaan-pertanyaan sepasang suami istri-terutama si suami-yang keduanya adalah saudara-saudara seiman yang saya kasihi di jalan Allah, risalah ini saya susun, Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan kepada seorang Ustadz, dalam rentang waktu yang cukup lama – 10 tahun-, hingga akhirnya kisah itu berakhir. Pertanyaan-pertanyaan itu pun akhirnya terhenti dengan sendirinya. Namun segala cerita di balik seluruh pertanyaan dan jawaban yang tercatat, memuat pula berbagai hikmah dan pelajaran. Saya amat tertarik. Saya ingin menuturkannya kembali kepada para pembaca sekalian, dengan cara saya sendiri, sebagai penulis dan juga juru dakwah. Biarlah disini saya mewakili Ustadzah itu untuk memaparkan segala cerita itu dari awal, hingga akhir. Jadi ‘seolah-olah’ sayalah yang menerima serbuan pertanyaan mereka, menjawabnya satu persatu, dan menyaksikan berbagai peristiwa yang mereka alami. Nama sepasang suami istri itu sengaja saya ubah, karena saya hanya ingin segala hikmah, pelajaran dan catatan penting di balik semua kisah mereka terungkap. Tidak lebih dari itu. Tak ada niat untuk membuat mereka bersikap ujub atas hal-hal baik yang saya paparkan. Atau membuat mereka malu, karena segala aib dan kekurangan mereka yang saya kisahkan. Saya hanya ingin, agar semua pertanyaan yang mereka lontarkan, dan berbagai jawaban yang disampaikan Ustadzah tersebut, bisa menjadi wejangan dan nasihat bagi kita bersama. Segala hikmah di dunia ini adalah ayat-ayat Allah. Tanda kekuasan-Nya di alam semesta ini. Karena Allah sudah menegaskan,
“Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.” (Al-An’am: 126)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar